Candi Kalasan

Lokasi Candi Kalasan

Candi Kalasan yang disebut juga Candi Kalibening berlokasi di desa Kalibening, Kecamatan Tirtamani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya di sebelah timur kota Yogyakarta, berada di kanan jalan pada kilometer 13 jurusan Yogyakarta – Surakarta.

Letak Candi Kalasan

Pemberian nama Candi Kalibening disesuaikan dengan nama desa candi tersebut berdiri. Hal ini sesuai dengan isi dari Prasasti Kalasan. Di dekat lokasi Candi Kalasan berada berdiri pula sebuah candi lain yang memiliki ciri khas bangunan yang sama dengan situs candi ini, yaitu Candi Sari.

Kedua candi tersebut memiliki bentuk bangunan yang hampir sama dan pahatan-pahatan reliefnya juga bertekstur sama halusnya. Selain itu, ornamen-ornamen dan relief dinding luar kedua candi ini sama-sama dilapisi vajralepa/bajralepa. Ciri khas ini tidak dijumpai pada candi-candi lain, selain pada kedua bangunan candi tersebut.

Sejarah Candi Kalasan

Candi Kalasan atau Candi Kalibening diperkirakan dibangun oleh Raja Panangkaran sebagai raja kedua dari Kerajaan Mataram Hindu. Tejapurnama Panangkaran adalah Rakai Panangkaran, pengganti Maharaja Sanjaya seperti dikatakan pada prasasti raja Balitung yang berangka tahun 907 Masehi.

Raja-raja Mataram Hindu berturut-turut adalah Raja Sanjaya, Srimaharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Srimaharaja Rakai Warak, Sri Maharaja Raka Garung, Srimaharaja Rakai Pikatan, Srimaharaja Raka Kayuwangi, Srimaharaja Ratu Watuhulumalang, dan kemudian nama raja yang memerintahkan pembuatan prasasti Srimaharaja Rakai Watukara Dyah Balitung Dharmodaya Mahachambu.

Candi Kalasan Jogja

Sepertinya memang ada hubungan erat antara Candi Kalasan dengan Prasasti Kalasan yang ditemukan dengan tulisan huruf Pranagari, dalam bahasa Sansekerta berangka tahun 778 Masehi.

Isi dari prasasti tersebut antara lain, para Guru sang raja, mustika keluarga Syailendra-Syailendrawamasatilaka telah berhasil membujuk Maharaja Tejapurnapana Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta dalam kerajaaan keluarga Syailendra.

Kemudian, untuk membanguan kedua bangunan suci tersebut Maharaja Tejapurnapana Panangkaran menghadiahkan desa Kalasan kepada Sanggha. Kuat dugaan candi yang dibangun oleh Maharaja Tejapurnapana Panangkaran sebagai kuil Dewi Tara tersebut adalah Candi Kalasan.

Hal ini didasarkan pada ditemukannya Patung Dewi Tara di dalam candi tersebut, namun sekarang patung tersebut telah hilang dan candi ini menjadi kosong. Sedangkan, yang dimaksudkan dengan bangunan suci sebagai biara para pendeta Buddha yang dibangun pada saat itu adalah Candi Sari.

Gambar Candi Kalasan

Beberapa ahli purbakala memperkirakan bahwa Candi Kalasan telah mengalami 3 kali proses pemugaran. Hal ini didasarkan pada bukti-bukti yang telah berhasil diungkap oleh para ahli purbakala. Diantaranya adalah pada keempat sudut kaki candi terdapat bagian yang menonjol dan pada candi itu juga terdapat torehan yang dibuat oleh Van Romondt (arkeolog berkebangsaan Belanda) pada tahun 1927 – 1929 dengan tujuan keperluan pemugaran.

Pada saat ini Candi Kalasan masih dijadikan sebagai bangunan suci tempat pemujaan bagi penganut aliran Buddha, terutama aliran Buddha Tantrayana dan pemuja Dewi Tara.

Gambaran Candi Kalasan

Candi ini yang sekarang kosong, dahulu pernah terdapat Arca Dewi Tara yang besar dan terbuat dari perunggu di dalamnya. Bangunan Candi Kalasan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 34 x 45 m2. Dalam tubuh candi terdapat ruang utama berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang menjorok ke luar, dihiasi sangat indah.

Relief Candi Kalasan

Di dalam ruangan ini terdapat susunan batu bertingkat yang dahulu di atasnya terdapat patung Dewi Tara. Patung Dewi Tara yang terbuat dari perunggu dan memiliki tinggi sekitar 6 meter tersebut telah raib dicuri. Pada dinding sisi barat, tepatnya di belakang susunan batu terdapat semacam alat pemujaan yang menempel pada dinding tersebut.

Candi ini berdiri di atas subasemen yang luasnya 14,20 meter persegi yang merupakan dasar bagi kaki candi. Pada dinding-dinding kaki candi Kalasan terdapat hasil pahatan dengan pola daun kalpataru yang keluar dari sebuah jambangan bulat atau yang disebut dengan motif kumuda.

Candi Kalasan berdiri di atas batur dengan ketinggian 20 meter di atas permukaan tanah. Batur tersebut membentuk selasar di sekeliling candi berbentuk selasar dengan luas 45 x 45 meter persegi.

Candi ini memiliki empat sisi dan masing-masing sisi terdapat sebuah pintu masuk ke dalam ruangan candi. Keempat pintu tersebut dihiasi dengan pahatan berpola Kalamakara di ambang atas pintu dan tepat di atas ambang pintu candi di bawah hiasan kalamakara ada hiasan kecil yang memperlihatkan wanita dalam posisi bersila dan kedua tangannya terlihat sedang memegang suatu benda.

Hanya pintu di sisi timur dan sisi barat yang memiliki tangga untuk mencapai pintu. Pintu sisi timur merupakan pintu untuk menuju ruang utama. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Candi Kalasan Yogyakarta ini menghadap ke timur. Di depan pintu masuk sebelah timur ini terdapat dua patung raksasa duduk memegang gada dan ular. Pada tangga naik menuju selasar candi terdapat hiasan kepala naga pada kakinya.

Foto Candi Kalasan

Pada lantai dasar di depan anak tangga terbawah adalah lantai yang tersusun dari bebatuan. Di depan kaki tangga terpasang lempengan batu tipis dan bertekstur halus serta memiliki bentuk yang berlekuk-lekuk. Di depan masing-masing tangga terdapat pintu.

Pada dinding-dinding luar Candi Kalasan terlihat ada relung-relung yang berisi arca. Namun sayang, tidak semua relung masih berisi arca, karena beberapa arca sudah tidak pada tempatnya lagi. Pada sisi kanan dan kiri atas pintu terdapat relung-relung yang berisi arca sosok dewa yang terlihat sedang berdiri dengan tangan yang sedang memegang bunga teratai.

Pada tubuh candi yang bagian atas membentuk sebuah kubus yang diduga menjadi lambang puncak Meru dan dikelilingi sejumlah 52 buah stupa. Tinggi rata-rata stupa-stupa tersebut diperkirakan sekitar 4,6 meter. Pada sepanjang batas antara tubuh dengan atap candi terdapat hiasan deretan gana (makhluk kerdil).

Candi Kalasan memiliki atap yang berbentuk segi delapan dan bertingkat tiga. Atap paling atas memiliki delapan kamar. Masing-masing berisikan Arca Dhyanibuddha yang saat ini hampir seluruhnya lenyap. Atap tingkat dua berbentuk segi delapan, tiap sisinya memiliki kamar-kamar dan relief Bodhisatva. Sayangnya patung Dhyani Buddha yang ada di tiap-tiap kamar itupun hampir seluruhnya telah lenyap.

Candi Kalasan Yogyakarta

Terakhir, atap yang bagian bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20, dilengkapi kamar-kamar pada setiap sisinya. Dahulu kamar-kamar itu berisi Arca Bodhisatva yang duduk di atas teratai. Tetapi pada saat ini hampir seluruh arca itu hilang.

Puncak candi ini bentuk aslinya berupa stupa, namun sampai sekarang belum berhasil direkonstruksi. Hal ini terkendala dengan batuan aslinya telah banyak yang tidak ditemukan. Jika dilihat dari dalam ruangan candi, puncak atap candi ini terlihat seperti rongga yang terdiri dari susunan lingkaran batu yang semakin ke atas semakin menyempit.

Candi Kalasan dibangun untuk dijadikan sebagai bangunan suci Dewi Tara. Siapakah Dewi Tara? Dalam lakon Arjunasasra Bahu, Dewi Tara diperkenalkan sebagai istri Sugriwa. Adapun Sugriwa adalah salah seorang dari tiga bersaudara yakni Subali yang dikutuk menjadi kera dan Dewi Anjani yang berwajah kera. Sugriwa juga merupakan paman dari salah seorang pahlawan Ramayana yakni Hanoman. Kisah itu memang menceritakan asal usul kesaktian kera-kera dalam cerita-cerita pewayangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *