Candi Abang

Peta dan Lokasi Candi Abang

Candi Abang terletak di sebuah puncak bukit di sisi jalan desa atau sekitar 1,5 Km dari Jalan Raya Jogja – Piyungan ke arah barat. Candi ini sering juga disebut sebagai Candi Abang Berbah, karena candi ini memang berada di Kecamatan Berbah, tepatnya berada di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman Yogyakarta.

Lokasi candi ini juga tidak jauh dari lokasi Candi Banyunibo dan Candi Barong, selain itu letak situs bersejarah ini juga dekat dengan Bandara Adisucipto.

Candi Abang Jogja

Candi yang unik di Yogyakarta ini belum mendapatkan perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait, sehingga jati diri dari candi pun belum terungkap secara jelas. Mengenai asal-usul candi, kapan dan siapa yang membangun candi ini, bagaimana bentuk aslinya, dan dahulu difungsikan untuk pemujaan atau untuk apa, semuanya belum terungkap dengan jelas.

Untuk menuju kawasan situs candi ini bisa melalui rute Yogyakarta – Solo pada Km 14 atau sekitar daerah Panti Rini, kemudian belok ke kanan sampai bertemu dengan Jalan Yogyakarta – Piyungan, setelah bertemu dengan perempatan yang ketiga ambil kanan dan anda akan sampai di sebuah bangunan sekolah SMP1 Brebah. Di dekat sekolah tersebut anda akan melihat sebuah bukit di sisi kanan jalan, bukit tersebutlah lokasi Candi Abang Brebah.

Jalan untuk menaiki bukit tersebut sudah cukup mudah dilalui karena sudah disemen. Sesampainya di atas bukit anda harus berbelok ke kiri dengan kondisi jalannya yang masih berupa bebatuan besar dan tidak teratur, karena candi ini belum dikelola seperti layaknya candi-candi lain yang di sudah jadikan taman wisata bersejarah.

Dari situ anda harus berjalan kaki untuk menuju lokasi Candi Abang tersebut. Jika menggunakan sepeda motor, anda bisa menitipkannya di rumah-rumah warga sekitar bukit.

Sejarah Candi Abang

Candi Abang merupakan candi Hindu yang menurut perkiraan para ahli purbakala candi ini didirikan sekitar abad ke-9 dan ke-10. Hal ini menunjukkan Candi Abang didirikan pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Namun, dari hasil penelitian para ahli purbakala menyatakan bahwa situs candi ini diperkirakan memiliki usia yang lebih muda dibanding candi hindu – candi hindu yang lain.

Jalan Menuju Candi Abang

Pada saat ditemukannya kembali candi ini terdapat arca Siwa di dalamnya. Selain arca, juga ditemukan alas yoni sebagai lambang dewa Siwa. Pada candi-candi lain alas yoni dewa Siwa ditemukan berbentuk persegi empat, namun pada situs ini memiliki bentuk segi delapan dan memiliki ukuran 15 cm pad setiap sisi-sisinya.

Candi ini sering dirusak dan digali secara liar oleh beberapa orang untuk kepentingan pribadi. Mereka berusaha mencari harta karun, harta peninggalan sejarah dan barang-barang berharga yang tersimpan pada situs ini. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa candi abang dahulu dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan harta karun pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Seperti yang terjadi pada kisaran bulan November 2002 yang lalu.

Candi yang berbentuk seperti piramid ini dinamakan Candi Abang karena terbuat dari batubata yang berwarna merah (abang dalam bahasa Jawa). Bentuk candi ini berupa bukit, sekarang banyak ditumbuhi rerumputan sehingga dari jauh nampak mirip seperti gundukan tanah atau bukit kecil.

Candi ini menjadi terkesan unik karena merupakan satu satunya candi di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah yang bahan baku bangunannya terbuat dari batu bata merah. Hal ini menjadi seperti tidak lazim karena candi candi berbahan baku batu bata merah biasanya ditemukan di daerah Jawa Timur pada zaman Pemerintahan Majapahit.

Sedangkan candi candi di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah yang sebagian besar didirikan pada masa Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno terbuat dari bahan baku batu andesit.

Batu andesit merupakan batuan beku vulkanik dari dalam perut gunung. Namun, untuk mendirikan bangunan candi yang kokoh diperlukan batu andesit yang kualitasnya sempurna, yaitu batu andesit yang sudah terpendam di dalam tanah kemudian ditambang dan dibentuk balok-balok yang dapat saling mengunci sehingga dapat dijadikan susunan sebuah bangunan candi yang kuat.

Gambaran Candi Abang

Situs Candi Abang terletak di sebuah kawasan di perbukitan dengan panjang halaman sekitar 65 meter dan lebarnya 64 meter. Kondisi bangunan candi sudah tidak sempurna lagi, namun candi ini masih nampak berdiri kokoh. Bangunan candi ini berdiri kokoh di atas puncak bukit, meskipun bahan bakunya tidak terbuat dari batu-batu andesit melainkan berasal dari batu bata merah.

Candi Abang Berbah

Candi Abang memiliki bentuk yang menyerupai piramida di atas alas berukuran 36 x 34 m2. Tinggi bangunan candi ini belum dapat diperkirakan secara pasti, namun ada yang menduga tinggi candi sekitar 6 meter. Di tengah-tengah candi ini terdapat sebuah sumur, oleh masyarakat setempat sumur tersebut dinamai sebagai Sumur Bandung.

Untuk memasuki candi ini dapat melalui sebuah tangga yang terbuat dari batu berwarna putih atau yang biasa disebut dengan gamping. Di sekitar candi ini juga ditemukan beberapa batu-batu andesit, namun sampai saat ini belum diketahui untuk apa fungsinya.

Pada saat ini bangunan Candi Abang ini telah ditumbuhi dengan rerumputan sehingga justru nampak seperti sebuah bukit kecil atau seperti gundukan tanah saja. Jika pada musim penghujan maka candi ini akan berwarna hijau karena rumput-rumput di sana akan tumbuh dengan subur. Namun, ketika musim kemarau candi ini akan lebih nampak dan akan terlihat merah ketika musim kemarau dan keadaannya gersang dan kering.

Relief-relief pada situs candi ini belum diketahui karena kondisi bangunan candi yang terkubur di dalam tanah. Pada sisi selatan candi ini terdapat sebuah batu yang bentuknya mirip seperti seekor kodok (katak) dan masyarakat setempat menamainya Batu Kodok. Keberadaan batu kodok tersebut belum dapat terungkap, apakah juga memiliki keterkaitan dengan bangunan situs candi abang di sebelahnya sampai saat ini masih menjadi sebuah misteri.

Mitos Candi Abang

Sampai saat ini masih berkembang kepercayaan bagi masyarakat setempat bahwa situs bangunan Candi Abang selalu dijaga oleh Kyai Jagal. Kyai Jagal merupakan seorang tokoh yang dihormati dan dituakan oleh masyarakat di sekitaran Candi Abang.

Mitos Candi Abang

Dia dideskripsikan sebagai seseorang yang memiliki badan tegap dan besar serta memiliki rambut yang panjang. Kyai Jagal juga dipercaya sebagai pelindung dari berbagai kerusakan. Konon pada zaman penjajahan Jepang, penduduk di sana menjadikan candi tersebut sebagai tempat berlindung, karena mereka percaya bahwa Kyai Jagal akan melindungi mereka dari serangan tentara Jepang. Kepercayaan warga setempat terhadap sosok Kyai Jagal ini sangat kuat.

Disamping itu, masih ada kepercayaan yang masih kuat juga mengenai batu bata merah yang menjadi bahan bangunan situs candi hindu bersejarah ini, yaitu apabila ada seseorang yang mengambil batu batu merah di kawasan candi abang ini maka sepulangnya di rumah ia akan menjadi hilang akalnya alias menjadi gila atau tidak waras.

Sampai saat ini warga setempat masih memegang teguh mitos tersebut. Memang ada baiknya mitos yang dipercaya masyarakat ini, karena mengajarkan beberapa nilai-nilai yang baik seperti agar kita tidak mengambil barang yang bukan milik kita dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Konon di dalam candi ini juga terdapat sebongkah emas sebesar gudel (anak kerbau) yang dijaga oleh Kyai Jagal.

Namun, sampai saat ini belum ada yang bisa membuktikan cerita tersebut. Mungkin ketika cerita ini menyebar banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan ingin mendapatkan kekayaan secara instan mereka melakukan perusakan – perusakan pada bangunan candi yang tidak semestinya dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *