Candi Tikus

Lokasi Candi Tikus

Candi Tikus merupakan sebuah bangunan petirtaan atau pemandian yang berlokasi pada sebuah daerah di Provinsi Jawa Timur. Tepatnnya pada sebuah dukuh yang bernama Dukuh Dinuk, Desa Trowulan. Dukuh Dinuk Sendiri berada di dalam wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten  Mojokerto.

Lokasi candi ini tidak jauh dari situs bangunan Candi Bajangratu, yaitu sekitar 600 meter dari situs bangunan bersejarah ini. Letak Candi Tikus jika di tempuh dari pusat Kota Mojokerto kira-kira sekitar 13 Km ke arah tenggara.

Candi Tikus

Melewati jalan raya yang menghubungkan kota Mojokerto dengan kota Jombang sampai di perempatan kecamatan Trowulan, belok ke arah timur.

Untuk sampai di situs bangunan candi yang berbentuk petirtaan ini kita akan melewati dua situs bersejarah lainnya yaitu Kolam Segaran dan Candi Bajangratu, di mana kedua bangunan tersebut berada di sebelah kiri jalan. Demikian pula letak situs Candi Tikus berada di sebelah kiri jalan.

Sejarah Candi Tikus

Kapan bangunan Candi Tikus ini dibangun belum terungkap dengan jelas. Siapa dan fungsinya sebagai apa pun tidak ada informasi tertulis yang dapat menerangkan mengenai hal tersebut.

Akan tetapi, berdasarkan ditemukannnya miniatur menara diperkirakan bangunan candi ini dibangun sekitar abad ke 13 atau ke 14 Masehi. Bentuk dari miniatur menara tersebut merupakan ciri-ciri dari arsitektur bangunan pada sekitar abad itu.

Candi tikus pertama kali ditemukan pada tahun 1914 oleh seorang Bupati Mojokerto bernama R.A.A. Kromo Djojo Adinegoro. Situs candi petirtaan ini pada awalnya telah terkubur di dalam tanah selama beratus-ratus tahun.

Letak Candi Tikus

Berdasarkan informasi dari Bupati Mojokerto mengenai ditemukannya miniatur candi pada lahan perkuburan rakyat kemudian dilakukan penggalian. Namun, pemugarannya baru dilakukan pada tahun 1984 dan selesai tahun 1989. Keseluruhan bangunan pemandian terletak jauh lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya, kurang lebih sekitar 3,5 meter.

Menurut cerita masyarakat setempat, pemandian itu diberi nama tikus karena pada saat Bupati Kromo Djojo Adinegoro (pendiri museum Mojokerto) memerintahkan menggali batu yang nampak mencurigakan di Dukuh Dinuk, yang pertama keluar adalah berpuluh-puluh tikus. Rupanya tikus-tikus itu telah mempergunakan retuntuhan bangunan pemandian sebagai sarangnya.

Bentuk bangunan Candi Tikus yang menyerupai pemandian atau petirtaan menjadi sebuah perdebatan mengenai fungsi bangunan di kalangan ahli sejarah dan para arkeolog. Beberapa pakar berpendapat bahwa candi ini dahulu berfungsi sebagai petirtaan yang digunakan sebagai kolam mandi keluarga raja.

Namun, sebagian lainnya tidak sependapat, beberapa pakar lainnya memiliki pendapat lain mereka berpendapat bahwa bangunan candi ini dahulu digunakan sebagai penampuang dan penyaluran air yang ditujukan untuk keperluan masyarakat Trowulan.

Namun, beberapa pakar lain juga mengungkapkan pendapat mereka dengan bukti ditemukannya menara yang berbentuk Mahameru yang menimbulkan dugaan bangunan ini difungsikan sebagai tempat pemujaan pada masanya.

Gambaran Bangunan Candi Tikus

Candi Tikus merupakan sebuah bangunan berbentuk kolam yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan lagi. Bentuknya lebih menyerupai pemandian atau petirtaan dan bukan seperti bentuk bangunan candi-candi yang ditemukan di daerah Jawa Tengah.

Denah bangunan Candi yang terbuat dari bahan batu bata merah ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 meter persegi dan memiliki ketinggian sekitar 5,20 meter dari dasar kolam sampai pada ketinggian permukaan tanah di sekitarnya.

Dasar kolam berada di bawah permukaan tanah dikelilingi tembok yang disusun berteras-teras. Teras-teras tersebut disusun semakin ke dalam semakin turun. Tangga masuk terdapat pada sisi utara. Pada bagian dasar kolam ada sebuah pondasi yang terlihat menempel pada dinding kolam sisi timur.

Candi Tikus Trowulan

Pada bagian atas pondasi tersebut terdapat dua buah teras lagi, yang mana pada kedua teras tersebu berdiri bangunan candi-candi kecil yang dibuat dengan bentuk replikan Gunung Mahameru yang terdapat di India.

Ditinjau dari sudut arsitekturnya di mana bentuk dari Candi Tikus merupakan replika Gunung Mahameru di India. Pada puncak gunung tersebut juga terdapat tempat para dewa bersemayam dan air yang mengalir dari Mahameru yang dianggap sebagai air suci.

Hal ini menjelaskan keberadaan Candi Tikus merupakan sebuah pemandian yang disucikan oleh pemeluk agama Hindu dan Buddha pada masa pemerintahan Majapahit. Karena konsep mengenai kesucian Gunung Mahameru yang dikenal baik di dalam ajaran kedua agama tersebut, yaitu agama Hindu dan Buddha.

Pada bagian permukaan kolam yang paling atas terdapat selasar yang mengelilingi bangunan kolam petirtaan Candi Tikus dengan lebar sekitar 75 cm. Turun sekitar 1 meter dari selasar paling atas tersebut akan ditemui lagi selasar yang juga mengelilingi tepian kolam yang memiliki lebar lebih panjang.

Untuk memasuki kolam Candi Tikus terdapat pintu masuk pada sisi utara kolam. Pintu masuk tersebut berupa tangga dengan kelebaran sekitar 3,5 meter yang menghubungkan selasar paling atas sampai pada bagian dasar kolam.

Pada sisi kiri dan kanan kaki tangga tersebut terdapat kolam-kolam yang berbentuk persegi empat. Masing-masing kolam tersebut memiliki ukuran sekitar 3,5 x 2 meter persegi dan berkedalaman sekitar 1,5 meter.

Pada dinding-dinding luar kolam-kolam tersebut terdapat tiga buah pancuran yang saling berjajar. Pancuran-pancuran tersebut terbuat dari batu andesit dan memiliki bentuk yang menyerupai padma (teratai).

Gambar Bangunan Candi Tikus

Tepat di depan anak tangga yang merupakan pintu dari Candi Tikus, menjorok ke dalam kolam ke arah selatan lagi ditemukan sebuah bangunan berbentuk persegi empat yang memiliki ukuran sekitar 7,65 x 7,65 meter persegi. Pada atas bangunan persegi ini berdiri sebuah menara yang berketinggian sekitar 2 meter yang atapnya berbentuk meru namun bagian puncaknya terlihat datar.

Terdapat juga menara-menara dengan bentuk yang sama sejumlah 8 menara, tapi  ukurannya lebih kecil dan mengelilingi menara yang berukuran 2 meter tersebut. Jadi, posisi menara yang ukurannya lebh besar dan tinggi  tersebut berada di tengah-tengah menara-menara kecil.

Pada bangunan petirtaan Candi Tikus ini juga terdapat beberapa pancuran air dengan jumlah keseluruhannya adalah 46 buah, namun yang saat ini tersisa di candi kurang lebih 19 pancuran saja. Karena beberapa pancuran lainnya telah disimpan di Balai Penyelamatan Arca Trowulan.

Bahan bangunan candi menggunakan batu bata kecuali pancuran air yang berbentuk Makara dan Padma yang keduanya terbuat dari batuan vulkanik atau yang sering disebut dengan batu andesit.

Adapun hal lain mengenai bahan pembuatan candi yang menjadi sebuah hal yang unik bagi bangunan ini, yaitu batu bata yang digunakan dalam pembangunan candi memiliki 2 jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda.

Pada bagian kaki candi terdiri dari susunan batubata merah dengan ukuran yang besar. Namun, di atasnya ditumpuk lagi dengan susunan batu bata merah yang ukurannya lebih kecil.

Selain kaki candi, pancuran air yang terdapat di bangunan Candi Tikus ini pun tidak hanya terbuat dari batu andesit akan tetapi beberapa bangunan pancuran ini terbuat dari bahan batu bata merah.

Jika ditinjau dari bahan bangunan yang bervariasi dalam pembangunan Candi Tikus ini, maka hal ini pun menimbulkan dugaan di kalangan pakar sejarah dan arkeolog bahwa pembangunan candi ini dilakukan dalam beberapa tahap. Meskipun tidak diketahui kapan tahap-tahap tersebut berlangsung.

Sejarah Candi Tikus

Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan pembuatan kolam petirtaan dengan menggunakan bahan baku batu bata merah yang berukuran besar dan tahap berikutnya dengan menggunakan bahan baku batu bata merah yang lebih kecil ukurannya.

Sehingga dapat disimpulkan batu bata merah yang berukuran lebih besar memiliki usia yang lebih tua dibandingkan dengan bangunan yang terbuat dari batu bata yang lebih kecil ukurannya.

Demikian pula dengan pancuran yang terbuat dari bahan batu bata merah diperkirakan memiliki usia yang lebih tua dibandingkan dengan pancuran yang terbuat dari bahan batu andesit, karena jika dilihat dari bentuk dan tekstur pahatannya, pancuran yang terbuat dari bahan batu andesit terlihat lebih halus, sedangkan pancuran yang terbuat dari bahan batu bata merah bentuknya terkesan masih kaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *