Candi Jago

Lokasi Candi Jago

Candi Jago terletak 18 Km dari Timur kota Malang, di daerah Tumpang. Atau lebih tepatnya berada di Dusun Jago Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Candi ini juga memiliki sebutan lain, yaitu Candi Tumpang dan Candi Cungkup.

Candi Jago Malang

Disebut Candi Tumpang karena berlokasi di daerah Tumpang, sedangkan Candi Cungkup merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat setempat.

Sejarah Candi Jago

Di dalam dokumen/kitab Nagara Kertagama dan Pararaton candi ini dinamai Jajaghu. Jajagu merupakan sebuah istilah yang digunakan dalam penyebutan tempat suci dan memiliki arti “keagungan”. Dalam kitab Nagara Kertagama pupuh 4, gatra ke-4 menjelaskan mengenai agama Syiwa Buddha yang dianut oleh penguasa Singasari, yaitu Raja Wisnuwardhana.

Candi Jago Tumpang

Agama Syiwa Buddha merupakan sebuah aliran agama perpaduan dari aliran Hindu dan Buddha. Agama aliran Syiwa Buddha berkembang di dalam masyarakat di sekitar lokasi Candi Jago berdiri pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Kerajaan Singasari berlokasi tidak jauh dari letak Candi Jago berdiri, kira-kira sekitar 20 Km dari bangunan bersejarah ini.

Candi Jago adalah candi yang dipersembahkan oleh Raja Kertanegara kepada Ayahandanya, Raja Jaya Wisnuwardhana dari Singasari yang mangkat di tahun 1268 Masehi. Wisnuwardhana merupakan Raja Singasari keempat. Candi Jago dibangun pada tahun 1268 Masehi dan selesai dibangun pada tahun 1280 Masehi seperti yang tertuang di dalam Kitab Nagara Kertagama dan Pararaton. Kitab tersebut juga menyebutkan bahwa selama tahun 1359 Masehi, candi ini menjadi sebuah tempat yang rutin dikunjungi oleh Raja dari Kerajaan Majapahit, yaitu Raja Hayam Wuruk.

Dari seni pahatan yang berpola padma (teratai) yang menjulur ke atas menunjukkan bahwa Candi Jago memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Singasari. Karena motif teratai seperti itu hanya terdapat pada masa Kerajaan Singasari dan bisa dikatakan populer. Diperkirakan candi ini telah mengalami pemugaran bangunan atas titah dari Raja Adityawarman pada tahun 1343 Masehi dengan membangun candi tambahan dan meletakkan Arca Manjusri.

Kebiasaan pemugaran candi seperti ini banyak dilakukan oleh para raja jaman dahulu, yang mana candi candi tersebut telah dibangun oleh raja raja sebelum mereka. Raja Adityawarman sendiri merupakan seorang raja dari Melayu yang memiliki hubungan keluarga dengan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.

Gambaran Bangunan Candi Jago

Bangunan candi yang menghadap ke barat ini secara keseluruhan memiliki denah dasar bangunan berbentuk segi empat dengan ukuran 23 x 14 meter persegi. Sedangkan tinggi bangunan Candi Jago ini tidak dapat diperkirakan secara pasti, karena atap candi sudah hilang.

Gambar Candi Jago

Namun, dari hasil penelitian yang pernah dilakukan diperkirakan tinggi bangunan sejarah ini mencapai pada ketinggian 15 meter. Ada banyak cerita-cerita binatang dan hikayat-hikayat tokoh Kunjarakunda, Arjuna, dan Kresna menghiasi candi tersebut. Ornamen-ornamen di Candi Jago sepintas memang mirip dengan ornamen yang dapat kita temui di candi Panataran.

Bangunan candi ini dibangun di atas batur candi dengan ketinggian kira-kira 1 meter. Bagian kaki candi tersusun tiga berundak-undak seperti teras bertingkat tiga. Kaki candi paling atas memiliki ukuran yang lebih kecil dan semakin lebar pada setiap tingkat lantai di bawahnya.

Pada lantai pertama dan lantai kedua candi terlihat seperti sebuah selasar yang mengelilingi candi dan dapat dilewati manusia. Ruang utama atau yang disebut sebagi garba graha candi ini terletak sedikit ke belakang. Bentuk bangunan bersusun, berselasar dan bergeser sedikit ke belakang serupa dengan ciri situs bangunan punden berundak undak yang banyak ditemui pada zaman Megalitikum.

Bangunan punden berundak-undak sendiri pada zamannya memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan terhadap para arwah nenek moyang. Berdasarkan kemiripan bentuknya ini, bangunan Candi Jago diduga juga dibangun sebagai tempat pemujaan terhadap arwah para leluhur. Namun, sampai sekarang belum dipastikan kebenarannya, karena belum diadakan penelitian yang lebih lanjut mengenai dugaan ini.

Pada bagian barat candi atau bagian depannya terdapat dua tangga sempit pada sisi kanan dan kirinya yang digunakan sebagai penghubung antar lantai. Dari susunan lantai-lantai tersebut lantai paling ataslah yang merupakan lantai terpenting dalam bangunan candi ini. Lantai teratas juga merupakan lantai yang dianggap paling suci.

Foto Candi Jago

Pada bagian kaki hingga pada dinding- dinding di ruangan atas candi ini terdapat berbagai hiasan-hiasan yang merupakan hasil dari pahatan. Pahatan-pahatan tersebut terlihat rapi memenuhi bangunan Candi Jago, sehingga tak terlihat sedikitpun bidang kosong tanpa hiasan pahatan pada bangunan candi ini karena semua telah dihiasi dengan berbagai motif pahatan yang menggambarkan cerita-cerita yang mengisahkan pelepasan kepergian.

Hal tersebut juga dapat menjadi penguat dugaan latar belakang dibangunnya candi ini memiliki hubungan yang erat dengan mangkatnya Raja Sri Jaya Wisnuwardhana sebagai Raja Kerajaan Singasari pada waktu itu. Relief-relief yang terpahat pada bangunan Candi Jago memiliki unsur unsur dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh agama Hindu dan Buddha, yang juga merupakan ajaran dari aliran Syiwa Buddha yang dianut oleh Raja Sri Jaya Wisnuwardhana.

Pada teras bagian terbawah terpahat relief mengenai cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna yang merupakan ajaran dari agama Buddha. Sedangkan, pada teras kedua terdapat pahatan lanjutan dari cerita Kunjarakara yang awal cerita sudah terpahat pada bagian teras terbawah.

Selain itu, pada teras kedua juga terpahat relief ajaran Hindu berupa penggalan kisah Mahabarata, yaitu pada kisah Pathayajna dan kisah Arjuna Wiwaha. Teras ketiga candi ini terdapat relief-relief yang menggambarkan cerita lanjutan dari kisah Ajuna Wiwaha. Pada tubuh candi ini terdapat relief-relief yang menggambarkan peperangan Krisna dengan Kalayawana yang merupakan ajaran dari agama Hindu.

Sekitar 6 meter dari kaki candi, ada sebuah pelataran yang di tengah-tengahnya terdapat pahatan yang berbentuk tatakan arca raksasa dari batu besar dan berdiameter sekitar 1 meter. Yang mana pada puncak pahatan batu besar tersebut terdapat pula pahatan bungan padama yang terlihat menjulur dari bonggolnya.

Semula pada halaman candi sebelah barat bangunan candi ini berdiri sebuah arca Amoghapasa yang merupakan perwujudan dari Raja Sri Jaya Wisnuwardhana memiliki delapan lengan dan berlatar belakang singgasana dengan bentuk kepala raksasa yang belakang membelakangi. Arca tersebut bagian kepalanya telah hilang dan bagian lengan-lengannya pun sudah tidak lengkap delapan lagi karena beberapa juga telah patah.

Arca Di Candi Jago Malang

Arca-arca lain mengelilinginya antara lain Bharakuti, Syamatara, Sudanakumara, dan Hayagriwa. Dari posisi arca Amoghapasa ke arah sebelah selatan kira-kira sejauh tiga meter terdapat arca dengan kepala raksasa yang tingginya mencapai satu meter. Namun, sekarang semua arca penting itu disimpan di Museum Jakarta.

Beberapa arca kecil lainnya dapat kita temukan di British Museum of London. Mengenai letak atau posisi benda-benda termasuk arca-arca tersebut memang berada pada posisi sebenarnya atau bukan masih menjadi sebuah teka teki yang belum terjawab, karena sampai sekarang belum ada informasi yang menerangkannya.

Pada halaman Candi Jago terdapat sebuah arca kecil Bhariwa yang merupakan perwujudan Adityawarman ketika masih mengabdi di Keraton Majapahit. Setelah menjadi Maharajadiraja di Suwarnaddwipa, lalu Adityawarman membuat Arca Bhariwa besar di jambi.

Adityawarman mengaku lahir dari keluarga Rajapatni. Pada tahun 1286 Kertanegara juga diberitakan mengirim sebuah arca yang disatukan dengan arca Candi Jago ke Jambi agar dipuja rakyat Melayu dan rajanya di Dharmasyaraya. Berdasarkan keterangan ini maka raja di Dharmasyaraya disimpulkan merupakan sekutu kerajaan singasari dalam menaklukan Sriwijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *