Relief Candi Borobudur dan Arca Buddha

Relief Candi Borobudur

Relief-relief yang dipahatkan pada bangunan candi ada yang menggambarkan urutan sebuah cerita, ada pula yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Relief Candi Borobudur yang menggambarkan sebuah cerita dibagi menurut adegannya menjadi panil atau pigura.

Semuanya berjumlah 1.460 panil, tersusun dalam 2 deret yang mengitari bangunan candi. Semua relief cerita pada Candi Borobudur yang dipahatkan pada dinding-dinding candi harus dibaca dari kanan ke kiri. Sedangkan cerita-cerita yang dipahatkan pada sisi dalam pagar langkan dibaca sebaliknya, yaitu dari kiri ke kanan.

Relief Candi Borobudur

Semua cerita di awali dari gapura sebelah timur. Panil-panil di Candi Borobudur jika dibentangkan dalam satu garis lurus dapat menjadi pameran lukisan terpanjang di dunia karena panjangnya yang mencapai 3 kilometer.

Relief pada kaki Candi Borobudur yang diambil dari kitab Karmawibhangga berjumlah 160 panil. Ke-160 panil ini tidak menggambarkan cerita yang beruntun. 117 panil memperlihatkan satu macam keadaan yang ditimbulkan akibat berbagai jenis perbuatan manusia. sedangkan 43 panil lainnya memperlihatkan berbagai macam keadaan manusia akibat dari satu jenis perbuatan.

Relief Karmawibhangga ini baru diketahui pada tahun 1885 oleh Ijzerman. Pada tahun 1891, Kasihan Chepas membuat foto-foto dengan cara membuka batu-batu penutup kaki bangunan candi, namun karena dapat membahayakan bangunan candi maka kaki candi ditutup kembali dengan hanya menyisakan beberapa relief candi borobudur di sudut tenggara.

Tujuannya untuk mengurangi rasa penasaran dan keingintahuan pengunjung candi. Sepuluh deretan relief cerita lainnya terdapat pada bagian tubuh candi atau bagian Rupadhatu. Relief-relief Candi Borobudur ini dipahat pada dinding candi dan pagar langkan pada setiap tingkat.

Tingkat pertama terdapat 4 deret relief Candi Borobudur, sedangkan tiga tingkat di atasnya masing-masing terdapat 2 deret relief. Salah satunya adalah relief pada pagar langkan yang menceritakan Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Sidharta, pernah dilahirkan sebagai kelinci.

Penggambaran Relief Candi Borobudur pada Tingkat 2-5

Tingkat 2 Candi Borobudur pada dinding candi lebih dari 3 meter, dihiasi oleh 2 deret relief candi borobudur (atas dan bawah). Masing-masing terdiri atas 120 panil. Relief bagian atas menceritakan riwayat hidup Sang Buddha menurut naskah Kitab Suci Lalitawistara (dimulai pada saat sang Buddha berada di Surga Tushita sampai saat pengajarannya yang pertama di Taman Lumbini).

Misteri Candi Borobudur

Deret di bawahnya menggambarkan cerita dari Kitab Jataka (tentang kehidupan sang Buddha dalam beberapa penjelmaannya sebelum menjadi Buddha) dan cerita dari Kitab Awadana (cerita yang serupa Jataka tetapi diperankan oleh orang lain).

Pada pagar langkan memuat dua deret relief candi borobudur yang tersusun satu di atas lainnya. Keduanya menggambarkan cerita dari Kitab Jataka dan Awadana. Relief deret atas berjumlah 372 panil dan bagian bawah berjumlah 128 panil.

Pada tingkat 3 Candi Borobudur dinding candi dipahat 128 panil yang diambil dari Kitab Gandawyuha. Panil ini menggambarkan pengembaraan Sudhana-Kumara yagn tidak mengenal lelah mencari guru untuk pengetahuan tertinggi (hakikat hidup). Pada pagar langkan berisi satu deret relief candi borobudur yang berjumlah 100 panil. Memuat kelanjutan dari Kitab Jataka dan Kitab Awadana.

Tingkat 4. Pada dinding maupun pagar langkan hanya dipahatkan satu deret relief candi Borobudur, masing-masing berjumlah 88 panil. Kedua deret relief itu, baik pada dinding maupun pagar langkan diambil dari Kitab Gandawyuha. Relief itu menceritakan riwayat Boddhisatva Martreya sebagai calon Buddha yang akan datang.

Tingkat 5. Relief pada dinding candi borobudur maupun pagar langkan hanya satu deret. Relief candi borobudur pada dindingnya berjumlah 72 panil, sedangkan pada pagar langkan berjumlah 84 panil. Relief pada dinding candi borobudur diambil dari Kitab Bhadracari dan pada pagar langkan diambil dari Kitab Gandawyuha.

Arca di Candi Borobudur

Candi Borobudur tidak hanya megah karena hiasan reliefnya, tetapi juga karena keindahan arcanya. Arca-arca diletakkan di bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Semua arca menggambarkan Dhyani Buddha dengan posisi duduk bersila di atas bantalan teratai dan selalu menghadap keluar. Arca di bagian Rupadhatu. Arca-arca Dhyani Buddha ditempatkan dalam relung-relung pagar langkan yang tersusun berjajar di sisi luar pada tingkat 2-6.

Arca Candi Borobudur

Arca di bagian Arupadhatu ditempatkan dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang-luang dan berderet dalam 3 susun lingkaran sepusat, pada teras bundar pada tingkat 7-9. Arca-arca Buddha di Candi Borobudur jika dilihat sekilas tampak sama, tetapi sesungguhnya berbeda.

Perbedaan yang sangat jelas antara arca Buddha yang satu dengan yang lain terletak pada sikap tangannya (mudra).Sebenarnya sikap tangan arca Buddha di Candi Borobudur ada 6 macam. Namun, karena sikap tangan arca Buddha pada tingkat 6 dan pada bagian Arupadhatu sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5. Jumlah ini sesuai dengan empat arah mata angin (timur, barat, selatan, dan utara) dan pusat/zenith. Jumlah ini juga sesuai dengan adanya 5 dhyani Buddha menurut konsepsi agama Buddha Mahayana.

Archa Dhyani Buddha

Arca DhyaniBuddha Aksobya dengan sikap tangan Bhumisparsamudra, berada di timur. Bhumisparsamudra menggambarkan sikap tangan saat Sang Buddha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan Iblis Mara.

Arca Dhyani Buddha Amoghasiddhi berada di utara dengan sikap tangan Abhayamudra. Abhayamudra menggambarkan sikap tangan “jangan takut”.

Arca Dhyani Buddha Amitabha berada di barat, dengan sikap tangan Dhyanimudra. Dhyanimudra menggambarkan sikap tangan saat semedi.

Arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa berada di selatan, dengan sikap tangan Varamudra. Varamudra menggambarkan sikap tangan memberi amal, memberi anugrah.

Arca Dhyani Buddha Wairocana berada di pusat (zenith), dengan sikap tangan Dharmacakra mudra. Dharmacakramudra menggambarkan sikap memutar roda dharma. Arca Dhyanai Buddha Wairocana terdapat di relung pagar langkan pada tigkat 6.

Arca-arca itu seolah memberi kesan bahwa Candi Borobudur “dijaga” oleh para Dhyani Buddha. 92 arca Aksobya di timur, 92 arca Amoghasiddhi di utara, 92 arca Amitabha di barat, dan 92 arca Dhyani Buddha ratna Sabhawa di selatan, serta 64 arca Dhyani Buddha Wairocana di pusat. Bagian Arupadhatu “dijaga” oleh Dhyani Buddha Wairocana. 72 arca Dhyani Buddha Wairocana terletak di dalam stupa-stupa kecuali stupa induk.

Stupa-stupa itu mengelilingi stupa induk. Stupa induk adalah stupa yang sangat besar yang merupakan pengganti perwujudan Buddha tertinggi atau Buddha mula-mula (Adi Buddha) yang tidak bisa digambarkan bentuknya.

Ajaran Sang Buddha

Jenjang atau tingkatan dan langkan dimaksudkan sebagai pedoman bagi para peziarah untuk menuju ke puncak candi. Melalui tingkatan yang penuh dengan relief Candi Borobudur, umat Buddha dibimbing setingkat demi setingkat agar terbebas secara mutlak dari segala ikatan duniawi.

Asal Usul Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan gambaran kehidupan alam semesta. Dalam ajaran Buddha kehidupan alam semesta terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Kamadhatu adalah dunia paling bawah atau dunia hasrat. Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada hasrat dan bahkan dikuasai oleh hasrat, kemauan, dan hawa nafsu. Kamandhatu diwakili bagian kaki candi yang penuh relief candi borobudur yang diambil dari kitab Karmawibhangga.

Rupadhatu, satu tingkat lebih tinggi dari Kamadhatu. Dalam tingkatan ini manusia telah meninggalkan segala hasratnya, tetapi masih terikat kepada nama dan rupa. Tingkatan ini diwakili oleh relief candi Borobudur yang terdapat di bagian dinding candi dan pagar langkan tingkat 2-5.

Arupadhatu yang berarti dunia tanpa rupa. Pada tingkatan ini sudah tidak ada nama maupun rupa sama sekali. Manusia telah memutuskan untuk melepaskan selamanya segala ikatan kepada dunia fana. Pada tingkatan teratas ini sudah tidak terdapat lagi relief Candi Borobudur.

Tingkatan ini diwakili oleh stupa-stupa di teras bundar pada tingkat 7, 8, 9 dan stupa induk pada tingkat 10. Pada tingkatan Arupadhatu terdapat barisan stupa berjumlah 72 buah yang tersusun dalam tiga tingkat. Tingkatan tersebut merupakan lingkaran-lingkaran sepusat mengelilingi stupa induknya.

Lingkaran pertama (paling bawah) terdiri dari 32 stupa, lingkaran kedua 24 stupa, dan lingkaran ketiga (paling atas) 16 stupa. Stupa-stupa tersebut dindingnya berlubang-lubang dan berdiri di atas sebuah landasan berupa bantalan teratai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *