Candi Sewu

Lokasi Candi Sewu

Pada sebuah lembah di daerah Prambanan yang membentang dari selatan ke utara atau dari pegunungan Sewu sampai lereng sisi selatan gunung Merapi tersebar berbagai situs candi dan situs purbakala yang jaraknya saling berdekatan. Fakta ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu atau pada zaman kehidupan masyarakat Jawa Kuno kawasan ini termasuk kawasan penting dalam beberapa aspek kehidupan, seperti politik dan keagamaan.

Foto Candi Sewu

Salah satu situs candi yang berada di kawasan ini adalah Candi Sewu. Candi buddha ini letaknya di sebelah utara Candi Prambanan, di tapal batas antara daerah Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Lokasi situs Candi Sewu hanya sekitar 800 meter saja dari letak Arca Roro Jonggrang. Lebih tepatnya, candi ini berdiri di dalam wilayah Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Dari arah kota Solo hanya menempuh jarak 17 Km saja.

Candi Sewu yang merupakan candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, tergabung di dalam satu kompleks wisata Candi Prambanan. Selain Candi Sewu, di dalam kompleks wisata sejarah ini juga ada Candi Lumbung dan Candi Bubrah di dalamnya.

Di dekat kompleks wisata Candi Prambanan ini juga ditemui beberapa situs candi candi lainnya, seperti situs candi Lor yang terletak sekitar 200 meter di sebelah utara kompleks wisata Candi Prambanan, di sebelah barat berjarak sekitar 300 meter berdiri Candi Kulon dan sekitar 300 meter ke arah timur terdapat Candi Gana.

Sejarah Candi Sewu

Beberapa ahli purbakala memperkirakan bahwa Candi Sewu dibangun pada abad ke-8 Masehi atas perintah dari Rakai Panangkaran, yang pada saat itu adalah raja dari Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 746 – 784 Masehi. Kemudian pada saat Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno Berpindah pada Rakai Pikatan, pembangunan kompleks candi ini pun dilanjutkannya.

Sejarah Candi Sewu

Para ahli purbakala pun memperkirakan bahwa pembangunan Candi Sewu ini selesai pada tahun 1098 Masehi. Rakai Pikatan sendiri adalah seorang pangeran dari Wangsa Sanjaya yang menikah dengan Ratu Pramodhawardhani, putri dari Raja Samaratungga yang berasal dari Wangsa Syailendra.

Diperkirakan pada zaman dahulu, kompleks Candi Sewu merupakan pusat kegiatan agama Buddha dan berfungsi sebagai sebuah kerajaan. Hal ini didasarkan pada wilayah kompleks candi yang cukup luas dan juga kemegahan yang dimiliki Candi Sewu.

Keberadaan Candi Sewu yang berdiri tidak jauh dari bangunan Candi Prambanan yang bersifat Hindu ini juga menjadi sebuah indikasi bahwa pada zaman itu sudah ada toleransi beragama yang terjalin dengan baik. Pada saat itu, meskipun raja dari Kerajaan Mataram Kuno menganut agama Hindu, namun banyak dari rakyatnya yang tetap menganut agama sebelumnya, yaitu Buddha.

Pada tahun 1960 ditemukan prasasti yang terpahat pada sebuah batu andesit pada salah satu candi perwara yang berangka tahun 792 Masehi. Prasasti tersebut ditulis dengan bahasa Melayu Kuno dan dikenal sebagai Prasasti Manjusrigrha.

Isi prasasti tersebut menceritakan adannya usaha dalam penyempurnaan prasada (candi/ kuil) yang bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka (792 Masehi). Pada sebuah prasasti yang ditemukan di dekat Candi Lumbung, Prasasti Kelurak (782 Masehi) juga menyebutkan nama candi ini adalah Manjusrigrha.

Relief Candi Sewu

Kata Manjusrigrha sendiri memiliki arti sebagai Rumah Manjusri dan dalam ajaran Buddha Manjusri merupakan salah satu Boddhisatva. Dari kedua buah prasasti ini menunjukkan bahwa sebenarnya nama dari Candi Sewu adalah Prasada Vajrasana Manjusrigrha.

Pada saat terjadi gempa di daerah Yogyakarta bagian selatan pada bulan Mei 2006 candi ini mengalami kerusakan yang cukup berat. Terutama pada candi utama yang mengalami kerusakan terparah dan struktur bangunan candi menjadi rusak berat.

Untuk menyelamatkan candi utama dari pencurian, candi ini pun ditutup dan tidak boleh dimasuki oleh pengunjung Candi Sewu. Meskipun, saat itu sudah dibuka kembali untuk wisata dan ziarah. Akibat gempa tersebut candi utama mengalami retakan di antara sambungan batu-batunya. Beberapa pecahan batuannya pun ada yang berserakan di atas tanah.

Untuk menyelamatkan bangunan candi dari keruntuhan pada keempat sudut bangunan candi dipasangkan kerangka besi yang berfungsi sebagai penyangga tubuh candi. Pada saat ini candi utama sudah selesai dipugar dan kerangka besi penyangganya pun sudah dilepas, sehingga pengunjung candi sudah diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan candi utama dari kompleks Candi Sewu ini.

Gambaran Bangunan Candi Sewu

Penamaan Candi Sewu yang secara etimologi berasal dari bahasa Jawa memiliki arti candi seribu. Dari nama tersebut bukan berarti jumlah sebenarnya seribu buah, penamaan tersebut didasarkan pada jumlah gugusan candi candinya yang cukup banyak.

Candi Sewu terdiri atas candi besar sebagai pusatnya (candi utama) yang dikelilingi oleh sekitar dua ratus lima puluh buah candi perwara yang tersusun dalam empat baris. Antara baris kedua dan ketiga terdapat lima buah candi yang lebih besar, tetapi sudah rusak.

Arca Candi Sewu

Pada tiap sisi dan tengah-tengahnya terdapat pintu gerbang sebagai jalan masuk pelataran candi. Untuk menuju pelataran luar kompleks candi ini ada 4 buah pintu gerbang yang berada pada sisi timur, selatan, barat, dan utara. Pada tiap-tiap pintu gerbang ini dijaga oleh sepasang Dwarapala yang berhadap-dahapan.

Untuk menuju pelataran dalam terdapat empat buah pintu gerbang yang menghubungkan pelataran luar dan pelataran dalam. Tiap-tiap gerbang tersebut juga dijaga oleh sepasang arca yang sama seperti yang ada di gerbang luar, yaitu arca Dwarapala.

Arca-arca Dwarapala tersebut terbuat dari batu dan berada di atas lapik persegi setinggi 1,2 meter dan tinggi arca ini sendiri sekitar 2,3 meter. Arca ini berada pada posisi salah satu kakinya ditekuk dan satunya berlutut dan salah satu tangannya sedang memegang gada.

Candi Utama

Candi utama dari kompleks Candi Sewu ini berbentuk persegi empat dengan sudut-sudut yang menonjol keluar atau lebih mirip bentuk poligon berjumlah 20 dan memiliki diameter sepanjang 29 meter. Bangunan candi utama ini memiliki tinggi 30 meter dan memiliki 9 atap yang pada setiap puncaknya terdapat stupa.

Gambar Candi Sewu

 

Tubuh candi utama berdiri di atas batur dengan ketinggian 2,5 meter pada sebuah pelataran seluas 40 m2 dan dikelilingi pagar batu yang tersusun setinggi 0,85 meter. Candi utama menghadap ke arah timur dengan sebuah pintu masuk yang pada sisi kiri dan kanan ambang pintunya dihiasi kepala naga dengan mulut yang terbuka lebar.

Dari pintu ini, pengunjung dapat masuk ke kamar tengah yang merupakan kamar terbesar. Candi utama dari Candi Sewu terbuat dari batu andesit, namun pada ruangan dalam tubuh candi dinding-dindingnya terbuat dari susunan batu bata merah. Ruangan dalam tubuh candi membentuk sebuah kubus yang terdapat sebuah ‘asana’ di dalamnya.

Candi Sewu Klaten

Terdapat tiga buah kamar lain di dalam candi utama yang tidak berhubungan dengan kamar tengah, karena masing-masing kamar mempunyai pintu yang dapat dicapai dengan tangga batu selebar 2 meter. Pintu-pintu tersebut menghadap ke arah selatan, barat dan utara.

Pada pangkal pipi tangga batu terdapat hiasan Makara dan kepala naga dengan mulut yang terbuka dan ada arca Buddha di dalamnya. Sedangkan dinding luar pipi tangga berhias hasil pahatan gambar raksasa Kalpawreksa. Atap-atap kamar itu dibangun rendah. Hanya pada kamar tengah atapnya lebih tinggi menjulang ke atas. Kaki candi utama memiliki hiasan dengan motif bunga.

Candi Apit dan Candi Perwara

Semua bangunan candi perwara dan candi apit berada di pelataran luar kompleks Candi Sewu. Pada masing-masing sisi pelataran luar berdiri bangunan candi apit di antara candi utama dengan deretan dalam candi perwara. Setiap jalan menuju candi utama akan membelah pelataran luar dan dalam dan pada sisi jalan akan terdapat candi apit yang saling berhadapan mengapit jalan tersebut.

Legenda Candi Sewu

Candi apit memiliki batur batu setinggi satu meter. Untuk mencapai ke selasar candi terdapat tangga. Di depan ujung tangga terdapat pintu candi dengan ambang pintu yang berhias relief-relief. Pada dinding-dinding tubuh candi apit terdapat pahatan yang menggambarkan beberapa sosok pria berbusana kebesaran seperti sosok dewa yang sedang berdiri dan tangannya sedang memegang setangkai teratai. Atap candi apit berbentuk stupa dan pangkalnya terdapat deretan stupa.

Candi perwara berdiri pada sisi terluar kompleks Candi Sewu. Deretan candi perwara mengelilingi candi utama dan candi-candi apit. Terdapat empat deretan candi perwara, deretan pertama dari luar terdapat 88 bangunan candi perwara, deret kedua 80 bangunan candi, deret ketiga 44 bangunan dan deret keempat (terdalam) berdiri 28 bangunan candi perwara.

Candi-candi perwara tersebut menghadap ke luar, kecuali candi-candi yang berada pada deret kedua. Candi-candi perwara pada deret kedua menghadap ke dalam. Pada saat ini, bentuk dari candi-candi perwara di pelataran Candi Sewu nampak sudah tidak sempurna lagi, karena banyak yang sudah rusak dan beberapa hanya tersisa reruntuhannya saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *