Candi Sukuh

Lokasi Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Letak Candi ini adalah di punggung Gunung Lawu pada ketinggian 910 meter dan 1470 meter di atas permukaan laut.

candi sukuh karanganyar

Situs Candi Sukuh ditemukan oleh Residen Johnson pada tahun 1815 di Surakarta, pada masa pemerintahan Raffles. Seperti halnya candi candi di Indonesia lainya, situs Candi ini ditemukan dalam keadaan runtuh.

Sejarah Candi Sukuh

Candi Sukuh dibangun pada tahun 1437 Masehi. Candi ini memilliki keunikan yang khas. Candi Sukuh karanganyar mempunyai bentuk dan susunan yang berbeda dengan bentuk bangunan candi candi pada umumnya. Candi induk dari bangunan Candi Sukuh bentuknya sangat spesifik, yaitu menyerupai bangunan pyramid di Mesir dan Meksiko.

Relief Di Candi Sukuh

Candi Sukuh merupakan punden berundak-undak yang menghadap ke barat dan semakin meninggi ke arah timur. Ada berapa tingkatan teras punden ini sebenarnya tidak jelas lagi. Yang tersisa sekarang hanyalah empat tingkatan paling atas saja. Di bagian kiri pelataran candi terdapat jajaran lima panil relief yang menggambarkan Kidung Sudamala atau Ruwatan Durga.

Di sana terdapat arca-arca dan relief-relief dari batu andesit. Pada bagian tengah menjelang lorong masuk ke candi terdapat dua altar yang disangga oleh arca kura-kura sebagai simbol pemangku bumi. Di atas altar inilah diperkirakan diadakan sesaji pada upacara-upacara keagamaan Hindu.

Candi tersebut merupakan bangunan suci agama Siwa, yang di Indonesia berbentuk lingga dan digambarkan secara realistis sebagai alat kelamin laki-laki. Dibanding dengan candi Borobudur dan candi Prambanan, relief-relief yang terdapat pada candi ini tampak lugu dan sederhana, seakan-akan merupakan karya seni orang-orang terpencil dan bukan ahli pahat batu.

Agama yang dianut pada kala itu adalah Hindu, terutama di kalangan kraton dengan dewa-dewa seperti Siwa, Brahma, dan Wisnu. Sedangkan, para putri yang serba sederhana tetap pada kepercayaannya, bahwa roh-roh para leluhur serta badan halusnya merupakan sumber pengaruh dan kekuatan hidupnya. Candi yang oleh agama Hindu dipakai sebagai tempat memuja dewa-dewa, oleh orang Jawa dianggap sebagai kediaman leluhurnya.

Deskripsi Bangunan Candi Sukuh

Halaman Candi Sukuh terdiri dari 3 teras. Dahulu apabila orang hendak mencapainya, harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran sampai di halaman candi tersebut. Relief Candi Sukuh memuat cerita yang menarik. Selain itu bentuk dari relief Candi Sukuh ini sangat beragam.

Candi Sukuh

Cerita-cerita yang dipahatkan pada relief candi diambil dari cerita-cerita yang sangat terkenal pada masa Jawa Kuno, yaitu cerita Sudamala dan Garudeya. Gambar relief Sudamala pada Candi Sukuh dimulai dengan relief seorang yang diikat pada batang pohon “Kepu Randu”, sedangkan di depannya berdiri seorang Dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang, dikawal oleh segerombolan hantu (kepala lepas, tangan lepas, dan lain sebagainya). Orang yang diikat ini adalah Sadewa, Pandawa termuda yang dipersembahkan kepada Batari Durga (ratu para hantu) oleh Dewi Kunti yang sedang kerasukan hantu pula.

Sadewa akan dapat meruwat atau membebaskan Durga dari kutukan yang berwajah raseksi, menjadi Dewi yang cantik kembali. Awalnya sejak Durga dikutuk oleh Batara Guru, karena berbuat serong dengan seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir serta harus turun dunia di Setra Gandamayu. Kutukan itu telah dilaksanakan. Namun pada akhirnya, Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa.

Selanjutnya, tampak relief Candi Sukuh yang menceritakan Sadewa yang oleh dewi Uma diberi nama Sudamala (suda berarti bersih dan mala berarti bersih) berlutut penuh hormat di hadapan Batara Durga beserta pengikutnya yang juga telah pulih menjadi dewata.

Semar, punakawan setia dari Pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok ketakutan, sekarang menirukan majikannya menyampaikan sembahnya pula. Tiga wanita tampak berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

Foto Candi Sukuh

Relief Candi Sukuh berikutnya, yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari Prangalas beserta anaknya Ni Padapa bersama punakawan. Cerita Sudamala mengisahkan, bahwa atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi dewi Uma kembali itu, Sudamala harus melangsungkan perkawinan dengan anak seorang pendeta buta. Pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaannya oleh Sadewa.

Kemudian pada relief berikutnya, kita melihat seorang raksasa bernama Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima, yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan angka tahun 1371 Caka (1449 Masehi). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat pada Candi Sukuh, dapat kita kenal dari pahanya yang telanjang, dan juga pada kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia mempunyai kuku panjang, yang dipergunakan sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Di pelataran yang agak tinggi pada kawasan situs Candi Sukuh, terlihat di sebelah utara ada relief raksasa yang tidak berbahaya lagi karena sudah mati dan dipukuli oleh dua orang punakawan, sedangkan pahlawan yang memenangkan peperangan pergi ke sebelah kiri. Terlihat pula relief Sadewa sedang berlutut di depan raksasa Kalanjaya, saudara Kalantaka yang berdiri di hadapannya dalam rupa asli sebagai dewa.

Patung Garuda Di Candi Sukuh

Bagi orang yang mengenal dunia perwayangan, akan segera menarik kesimpulan bahwa relief-relief yang dibuat pada Candi Sukuh seolah-olah begitu saja diambil dari adegan-adegan pakeliran, seperti Bima yang mengangkat musuhnya dengan tangan dan membantingnya atau melemparnya jauh-jauh.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa seni orang Hindu yang dimasukan ke Nusantara pada permulaan tarikh Masehi, telah diresapi dengan cepat oleh orang Jawa. Kemudian, oleh orang Jawa pengaruh tersebut telah dikembangkan sedemikian rupa, sehingga timbulah bentuk-bentuk baru, wajah-wajah baru dan ungkapan-ungkapan baru.

Sifat dari seni itu berubah-ubah, mengikuti perkembangan-perkembangan di dalam kepercayaan dan mendalam, berikut upacara-upacara Jawa kuno seperti kematian dan pemujaan leluhur. Jadi, gaya Candi Sukuh ini berakhir di dalam perkembangan sejarah alam pikiran orang Jawa, yang memiliki norma hukumnya sendiri dan tidak dinilai menurut norma atau hukum yang lain.

Sementara di atas teras ketiga Candi Sukuh, kita melihat sebuah tugu yang berdiri sendiri di atas sepetak tanah dengan tinggi 85 cm dan luas 11,60 x 7,80 m. Bentuk tugu pada situs candi ini persegi dan dihiasi relief: di satu susu berdiri dua orang wanita, sedang di sisi yang lain seekor burung garuda sedang terbang.

Relief Lingga Yoni Candi Sukuh

Pada kedua sisi lainnya kita lihat sederetan naga yang merayap berurutan. Gambar-gambar ini termasuk di dalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata. Kadru dan Winata bertaruh tentang warna ekor kuda Uccha icrawa, siapa yang kalah harus mengabdikan diri. Kadru memenangkan pertaruhan, dengan bantuan dari anak-anaknya yang berupa seribu ekor ular dan secara licik telah memberi bisa kepada ekor kuda tersebut sehingga warnanya pun berubah, sedangkan Winata hanya memiliki anak seekor Garuda dan seorang anak yang tidak berkaki, bernama Aruna. Akhirnya, Winata mengabdi kepada Kadru, namun pada akhirnya Garuda mampu membebaskan Winata dari perbudakan tersebut.

Di dalam situs Candi Sukuh terdapat sebuah tugu yang dihias pada dua sisi. Bagian belakang terlihat seorang raja yang membawa sebilah keris, dan raksasa yang terbang di angkasa. Sangat disayangkan, tidak jelas siapa yang dimaksud tersebut. Akan tetapi, gambar pada sisi muka tugu ini jelas terlihat gambar Garuda yang menghubung ke angkasa sambil mencengkeram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura pada cakar yang lain.

Gambar tersebut mengisahkan ketika Sang Garuda mendengar bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman dewa-dewa amerta dan menyerahkannya kepada para naga. Setelah mendapatkan petunjuk itu Sang Garuda memutuskan untuk segera pergi untuk melaksanakan hal itu.

Namun, di tengah perjalanan ia merasa lapar, kemudian ia membuka separuh paruhnya seperti gua. Suara sayapnya yang gemuruh membuat seluruh warga suatu suku merasa ketakutan dan berlarian memasuki paruh Sang Garuda tersebut dan ditelannya. Akan tetapi, tenggorokannya menjadi gatal karena di antara orang-orang yang ditelannya tersebut terdapat beberapa orang Brahmana, maka Sang Garuda memutahkannya kembali.

Untuk menghilangkan laparnya, ia kemudian memangsa seekor gajah dan kura-kura. Sebenarnya kedua binatang tersebut adalah dua bersaudara yang sedang mendapat kutukan. Dengan demikian, dua bersaudara yang bernama Supratika dan Wibhawasu terbebas dari kutukan dan kembali menjadi manusia.

Kemudian, Sang Garuda terus menuju tempat penyimpanan amerta di Kayangan, tetapi adanya tombak-tombak dan roda-roda yang terdiri manusia tidak memungkinkannya untuk masuk. Dengan cara memperkecil dirinya, Sang Garuda berhasil menyelinap masuk dan merebut amerta setelah melawan para dewa yang mengejarnya. Akhirnya, amerta diserahkan kepada para naga.

Sewaktu para naga tersebut memandikan diri dan akan meminum amerta yang dapat memeberikan hidup abadi, datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat di mana tempat amerta diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput di sana, lidah para naga pun terbelah, sebagaimana yang kita lihat sampai sekarang.

Situs Candi Sukuh

Namun demikian, hanya sebagian kecil dari cerita yang menarik ini terpahat di tugu ini, sedangkan sebagian besar lengkapnya dapat ditemukan pada sebuah tugu yang berdiri di pojok petak tengah tinggi. Di situ terlihat Sang Garuda berada di muka gubuk tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisau-pisaunya, di sana nampak juga Garuda berlindung di belakang Wisnu yang memberikan karunia kepadanya, karena selama perjalanan ia tak mencicipi amerta sedikitpun.

Tugu ketiga, bagian belakangnya memperlihatkan kepada kita Arjuna, kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan berbaris dengan membawa sebuah gong peperangan. Tugu keempat, nampak tokoh seorang tokoh pahlawan kera seperti hanoman dari cerita Rama, bersama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya. Ada juga sebuah hiasan aneh yang terdapat pada kompleks Candi Sukuh, yaitu bentuk tapal kuda di kanan kirinya berujung kepala kijang, namun bentuknya sudah tidak utuh lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *