Candi Cetho

Lokasi Candi Cetho

Situs bangunan sejarah Candi Cetho terletak tidak jauh dari lokasi berdirinya candi Sukuh. Kedua buah situs bangunan bernilai sejarah ini sama-sama berada di dalam Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Jika candi Sukuh terletak di Kecamatan Ngargoyoso, lain halnya dengan situs bangunan Candi Cetho yang terletak di Kecamatan Jenawi. Tepatnya di Dukuh Cetho yang berada dalam wilayah Desa Gumeng. Candi ini berdiri di atas tanah yang berketinggian 1496 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki udara yang cukup dingin.

Candi Cetho

Bangunan Candi Hindu ini berdiri di atas dataran yang lebih tinggi dibanding dengan lokasi bangunan Candi Sukuh yang berdiri pada ketinggian 1470 meter di atas permukaan laut.

Sejarah Candi Cetho

Berdasarkan prasasti berupa sengkalan yang berbunyi “Welut wiku anakut iku”, Candi Cetho dibangun pada masa Majapahit. Oleh A.J. Bernet Kempers, sengkalan tersebut diartikan sebagai tahun Saka 1373 atau 1451 Masehi atau pada zaman Majapahit mendekati masa akhir.

Hal itu semakin dikuatkan dengan penemuan batu-batu yang berhiaskan lambang kebesaran Majapahit, yaitu “Surya Majapahit” yang terdapat pada halaman kompleks candi ini.

Pembangunan Candi Cetho dan Candi Sukuh di puncak bukit lereng Gunung Lawu diduga  memang memiliki hubungan dengan tradisi pemujaan roh arwah nenek moyang yang sudah berlangsung sejak masa pra sejarah.

Hal tersebut semakin diperkuat dengan adanya bentuk bangunan kedua candi tersebut yang dibuat berteras-teras menyerupai bentuk punden berundak yang menjadi bentuk bangunan masa prasejarah.

Candi Cetho Karanganyar

Dari prasasti yang ditemukan, menunjukkan tahun 1469 dan 1475 Masehi, berarti Candi Cetho dibangun pada masa Majapahit. Namun, bangunan candi  yang kita lihat sekarang adalah yang bergaya Bali.

Keberadaan Candi Cetho yang merupakan salah satu dari bangunan Candi yang didirikan pada masa Kerajaan Majapahit ini diduga dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya ke-V. Pemberian nama Cetho yang diberikan pada bangunan bersejarah ini sesuai dengan nama daerah di mana candi ini ditemukan.

Di dalam bahasa Jawa, kata “Cetho” memiliki arti “jelas”, konon karena dari Dusun Cetho ini kita dapat melihat dengan jelas ke berbagai arah. Misalnya ketika melihat ke arah utara, kita dapat melihat sebuah pemandangan yang indah berupa Kota Karanganyar dan Kota Solo yang berlatar belakang Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, dan lebih jauh lagi akan terlihat indahnya ciptaan Tuhan yang berupa Gunung Sumbing.

Mitos Candi Cetho

Jika melihat ke arah barat dan timur, kita akan menyaksikan pemandangan bentangan bukit-bukit yang terkesan sangat indah. Serta ketika  melihat ke arah selatan terlihat pula punggung Gunung Lawu beserta sejumlah anak gunung tersebut.

Candi Cetho kembali ditemukan pertama kalinya pada tahun 1842 oleh Van der Vlis. Kemudian, sejumlah ahli purbakala seperti W.F, Sutterheim, K.C. Crucq, N.J. Krom, A.J. Bernet Kempers dan Riboet Darmosoetopo memberikan perhatian terhadap penemuan bangunan cagar budaya ini. Perhatian yang lebih serius terhadap bangunan candi ini baru dilakukan pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala.

Kala itu Dinas Purbakala melakukan penelitian yang lebih mendalam dengan melakukan penggalian dalam upaya mencari material bangunan candi supaya candi ini dapat direkonstruksi dengan bahan-bahan yang lengkap sesuai dengan bentuk bangunan aslinya.

Pada tahun 1970-an dilakukan pemugaran kembali dengan mengganti beberapa bahan bangunan dengan bahan kayu, seperti yang Nampak pada bangunan-bangunan pendopo dalam kompleks situs ini. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan karena aspek arkeologis yang dimiliki bangunan candi ini telah terabaikan dan nilai arkeologisnya pun menjadi berkurang.

Kompleks candi ini merupakan candi Hindu yang sengaja dibangun dengan tujuan ruwatan. Dalam budaya jawa upacara ruwatan merupakan sebuah upacara adat yang dipercaya sebagai media penyucian diri dari kehinaan akibat kutukan, perbudakan, penyakit, dan kesengsaraan hidup lainnya.

Bangunan Candi Cetho

Ada hal yang cukup menarik ketika kita memandang masa pembangunan candi yang berlangsung pada masa pemerintahan Majapahit, yang mana raja-raja Kerajaan Majapahit tersebut menganut agama Buddha. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa ada kaitan erat mengenai tujuan pembangunan Candi ini dengan kondisi yang sedang terjadi pada masa itu.

Berdasarkan catatan sejarah bersamaan dengan masa pembangunan Candi Cetho ini, Kerajaan Majapahit juga sedang mengalami proses keruntuhannya.

Puncaknya terjadi dengan adanya kekacauan di bidang sosial, politik, budaya, dan bahkan tatanan keagamaan yang menimpa Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini akhirnya pun mengalami keruntuhan total pada tahun 1478 Masehi.

Sampai pada saat ini bangunan Candi Cetho masih dipergunakan sebagai tempat ibadah dan menjadi tempat ziarah bagi umat Hindu. Setiap tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa menjadi waktu yang sangat dikramatkan oleh penganutnya. Selain itu, juga diadakan peringatan Wuku Medangsia setiap enam bulan sekali.

Gambaran Candi Cetho

Candi Cetho mempunyai bentuk dan susunan bangunan yang menyerupai bangunan Candi Sukuh, yaitu dibangun dalam teras-teras berundak. Teras-teras itu disusun berderet-deret dari sisi barat sampai pada sisi timur dengan pintu masuk di sebelah barat, makin ke belakang makin tinggi.

Teras yang dianggap paling penting dan suci terletak pada teras paling atas. Antara teras yang satu dengan teras yang lain dihubungkan oleh pintu masuk teras. Masing-masing halaman teras seolah-olah dipisahkan menjadi dua oleh jalan dari teras pertama menuju teras terakhir. Teras-teras tersebut berjumlah 7 buah.

Arca Candi Cetha

Teras-teras di Candi Cetho yang  berjumlah tujuh buah sesungguhnya melambangkan tujuh tingkatan kehidupan manusia dalam kepercayaan agama Hindu.

Ketujuh tingkatan kehidupan itu adalah Bhurloka, Bhuvarloka, Svarloka, Caturloka, Janaloka, Tapaloka, dan Saptaloka. Bhurloka adalah tingkatan manusia yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, sedangkan Saptaloka adalah tingkatan manusia yang sudah dapat membebaskan diri dari hawa nafsu, sehingga lepas dari hukum karma.

Pada sisi timur terbawah terdapat pintu gerbang kompleks Candi Cetho yang berupa gapura dan di depan gapura ini terdapat sebuah arca batu yang berupa arca Nyai Gemang Arum. Pada sisi selatan kompleks candi ini pada teras pertama memiliki bangunan yang tidak berdinding dan hanya berupa pondasi yang memiliki ketinggian sekitar 2 meter.

Di dalamnya ada susunan batu-batu yang terlihat masih sering digunakan sebagai tempat meletakkan sesajian. Saat ini candi ini masih digunakan oleh masyarakat setempat dan peziarah Hindu sebagai tempat pemujaan. Selain itu, candi ini juga saat ini masih dipergunakan sebagai tempat pertapaan bagi penganut Kejawen yang merupakan aliran kepercayaan asli Jawa.

Arca-arca yang terdapat di Candi Cetho bergaya pra sejarah dan bentuknya sederhana, pembuatnya kasar dan kaku. Di candi tersebut juga terdapat relief-relief yang diambil dari cerita Sudamala dan Garudeya. Kedua cerita tersebut dipilih karena mengandung semangat pembebasan diri dari malapetaka yang dialami oleh manusia.

Foto Candi Cetho

Beberapa arca yang terdapat di dalam kompleks Candi Cetho ini antara lain Arca Nyai Gemang Agung, dua buah arca Agni tetapi hanya satu buah arca ini kondisinya sudah tidak utuh lagi.

Bangunan utama kompleks Candi Cetho ini terletak pada teras tertinggi, di halaman paling belakang dan menghadap tepat ke puncak gunung. Hal ini seolah ingin menunjukkan bahwa kesucian candi merupakan bagian dari alam sekitarnya.

Selain itu, arsitektur yang dimiliki candi ini berhaluan pada konsep di mana para dewa itu sebenarnya bersemayam di puncak gunung bukan di langit. Konon, gunung merupakan sumber energi yang dapat terlihat dan tidak terlihat secara kasat mata.

Bangunan Candi Cetho berbeda dengan candi-candi lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di candi ini pun memiliki banyak peninggalan yang terkesan unik seperti segitiga, kura-kura, lingga dan patung-patung bergaya pra sejarah. Bentuk-bentuk peninggalan tersebut juga bermakna semangat pelepasan, berkaitan dengan upacara ruwatan seperti telah dijelaskan di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *