Candi Cangkuang

Lokasi Candi Cangkuang

Letak Candi Cangkuang adalah di desa Cangkuang, kecamatan leles, kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Ditemukan juga sebuah makam kuno di sebelah lokasi situs candi ini. Makan tersebut merupakan makam dari seorang pemuka agama Islam yang menjadi leluhur desa cangkuang, yaitu Embah Dalem Arief Muhammad.

Sejarah Candi Cangkuang

Sejarah Candi Cangkuang

Asal usul atau sejarah pemberian nama Candi Cangkuang di Jawa barat ini sesuai dengan nama desa di mana candi ini ini ditemukan. Sedangkan nama desa Cangkuang ini sendiri dikarenakan desa ini menjadi tempat tumbuhnya pohon cangkuang.

Candi Cangkuang Garut

Cangkuang merupakan nama tanaman sejenis pandan dengan istilah ilmiah Pandanus Furcatus. Biasanya daun cangkuang ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membuat kerajinan tangan seperti tudung saji dan tikar, bisa juga digunakan sebagai pembungkus gula aren. Desa Cangkuang dikelilingi empat gunung besar, yaitu gunung Guntur, gunung Mandalawangi, gunung Haruman dan gunung Kaledong yang berada di Jawa Barat.

Candi Cangkuang berada di sebuah pulau kecil di tengah danau yang disebut Situ Cangkuang. Kedalaman danau yang dangkal membuat sebagian danau akan terlihat mengering ketika musim kemarau. Berdasarkan cerita yang diyakini masyarakat setempat Embah Dalem Arief Muhammad dan teman-temannya yang sengaja membendung daerah ini sehingga membentuk sebuah danau.

Konon, Embah Dalem Arief Muhammad adalah seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Kerajaan Mataram di Yogyakarta. Pada abad ke-17 beliau bersama rombongannya bertujuan pergi ke Batavia untuk menyerang VOC serta menyebarkan agama Islam.

Namun, penyerangan tersebut gagal dan beliau memutuskan untuk tinggal menetap di desa Cangkuang untuk menyebarkan agama Islam di sana. Pada saat itu, masyarakat desa Cangkuang masih menganut agama Hindu. Pada saat ini keturunan Embah Dalem Arief Muhammad masih menetap di desa Cangkuang, tepatnya di Dusun Kampung Pulo.

Makam Di Candi Cangkuang Garut

Kampung Pulo menjadi kawasan cagar budaya kabupaten Garut. Kampung Pulo merupakan kampung adat yang cukup unik karena di dalam kampung tersebut hanya boleh berdiri enam buah rumah dan sebuah mushola saja. Jumlah dari rumah-rumah tersebut tidak boleh lebih juga tidak boleh dikurangi.

Posisi rumahnya pun diatur berjejer tiga buah rumah di sebelah kanan, tiga rumah lagi di sebelah kiri, dan saling berhadap-hadapan. Hanya ada enam keluarga yang diperbolehkan tinggal di kampung pulo tersebut. Ketika ada anggota keluarga yang menikah, maka dia dan pasangannya juga harus tinggal di luar Kampung Pulo.

Komposisi rumah di Kampung Pulo ini menggambarkan jumlah anak Embah Dalem Arif Muhammad, yaitu 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Namun, konon berdasarkan cerita masyarakat setempat anak laki-laki Embah Dalem Arif Muhammad meninggal dunia.

Penemuan Kembali dan Pemugaran

Bangunan bersejarah ini merupakan candi Hindu yang pertama kali ditemukan di Jawa Barat, yang ditemukan kembali oleh tim peneliti Prof. Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita pada tanggal 9 Desember 1966. Usaha pencarian Candi Cangkuang sendiri berdasarkan pada laporan Vorderman yang tertuang pada buku Notulen Bataviaasch Genotschap yang terbit pada tahun 1893. Dalam laporan yang ditulis oleh Vorderman menyebutkan bahwa di daerah Cangkuang terdapat sebuah arca yang rusak dan sebuah makam kuno.

Foto Candi Cangkuang

Para ahli menduga Candi Cangkuang merupakan candi Hindu yang didirikan pada abad ke 8, hal ini didasarkan pada tingkat kelapukan batuannya dan tidak adanya relief pada candi tersebut, sehingga bentuknya terkesan sederhana.

Situs Candi Cangkuang mulai diteliti dan digali pada tahun 1967 sampai tahun 1968. Pada awal penelitian ditemukan bebatuan yang merupakan reruntuhan bangunan candi di sebelah makam kuno (Makam Embah Dalem Arief Muhammad), juga ditemukannya arca siwa yang telah rusak di antara reruntuhan bangunan candi.

Bebatuan berbentuk balok yang berjenis batuan andesit yang ditemukan oleh tim peneliti menjadi bukti bahwa di sana dulunya terdapat bangunan candi, sehingga selanjutnya dilakukan penggalian untuk menemukan bangunan candi seutuhnya. Namun, telah banyak batuan candi yang telah hilang. Ketidaktahuan masyarakat setempat turut menjadi penyebabnya, seringkali penduduk setempat menggunakan bebatuan tersebut sebagai batu nisan.

Dari penggalian yang dilakukan oleh tim peneliti ditemukan pondasi candi seluas 4,5 x 4,5 meter. Pondasi tersebut terletak kurang lebih tiga meter dari makam Embah Dalem Arief Muhammad. Dari hasil penelitian tersebut membuat tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan ikut serta dalam penelitian sampai tahun 1968.

Proses pemugaran dilakukan pada tahun 1974-1975, kemudian pada tahun berikutnya 1976 dilakukan rekonstruksi bangunan candi yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Siwa. Batuan candi yang telah hilang menjadi sebuah kendala yang paling utama dalam proses rekonstruksi candi ini, karena batuan candi asli yang ditemukan hanya sekitar 40% saja.

Sehingga, dalam proses rekonstruksi bangunan candi ini digunakan adukan semen dan batu koral, pasir dan besi sebagai pengganti dari batuan candi yang telah hilang. Candi Cangkuang menjadi candi yang pertama kali dipugar.

Gambaran Bangunan Candi Cangkuang

Hasil pemugaran Candi Cangkuang memperlihatkan bangunan candi yang megah dan elok. Candi ini memiliki ukuran yang serasi dengan keadaan alam di sekitarnya. Bangunan candi berdiri di atas pondasi berukuran 4,5 x 4,5 meter persegi dengan tinggi bangunan 8,5 meter dari kaki hingga puncak tertinggi candi ini.

Bentuk atap candi bersusun seperti piramida. Di sepanjang tepian susunan atap terdapat hiasan mahkota-mahkota ukuran kecil, seperti yang tampak pada candi-candi Gedong Songo di Kabupaten Semarang. Pada sisi timur candi terdapat sebuah pintu masuk candi yang diapit dinding yang terlihat seperti bingkai pintu, namun tidak terdapat pahatan atau relief pada bingkai pintu candi.

Patung Siwa Di Candi Cangkuang

Untuk mencapai pintu candi, kita akan melewati tangga setinggi 1 meter dengan lebar sekitar 75 cm. Namun, pada saat ini kita tidak dapat memasuki ruangan candi demi kelestariannya. Sehingga telah terpasang pintu dengan terali besi yang terkunci pada ambang pintu candi, namun begitu kita tetap bisa melihat ke dalam ruangan candi.

Di dalam ruangan Candi Cangkuang tersebut terlihat arca siwa setinggi kurang lebih 62 cm dan konon tepat di bawah patung siwa tersebut terdapat sebuah lubang yang berkedalaman 7 meter.

Di kawasan bangunan Candi Cangkuang tersebut juga didirikan sebuah museum berupa bangunan Joglo sederhana yang digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah kebudayaan dari seluruh penjuru kabupaten Garut. Di dalam museum ini juga bisa kita temukan benda-benda bersejarah milik Embah Dalem Arif Muhammad, seperti:

  1. Kitab Suci Alqur’an yang terbuat dari saih (kulit kayu) berukuran 33 x 24 cm, tentu saja usia dari kitab suci ini sudah ratusan tahun. Namun, demikian Alqur’an ini masih bisa terbaca tulisannya.
  2. Kitab ilmu Fiqih dengan bahan kulit kayu (saih) ukuran 26 x 18,5 cm, yang telah berusia ratusan tahun, namun tulisannya masih bisa dibaca.
  3. Naskah Khutbah Jumat, terbuat dari kulit kambing berukuran 176 x 23 cm. naskah khutbah jumat ini juga merupakan naskah khutbah terpanjang di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *